Jamu dan obat-obatan tradisional, telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita.
Keragaman obat-obatan tradisional di tanah air, telah memperkaya
khasanah ilmu pengetahuan, dan kesehatan bangsa kita. Bahkan negara kita
menjadi salah satu pusat tanaman obat di dunia. Ribuan jenis tumbuhan
tropis, tumbuh subur di seluruh pelosok negeri.
Dibanyak daerah di tanah air, kita menemukan pelbagai kitab yang
berisi tata cara pengobatan dan jenis obat tradisional. Tengok saja di
Bali, ditemukan kitab usadha tuwa, usadha putih, usadha tuju, dan usadha
seri yang berisi pelbagai jenis obat tradisional.
Bahkan dalam sebuah cerita rakyat, Sudamala, dikisahkan bagaimana
Sudamala berhasil menyembuhkan mata pendeta Tambapetra yang buta.
Bentuk pengobatan tradisional juga tergambar dalam relief cerita
Mahakarmmawibhangga dikaki Candi Borobudur. Dilukiskan seorang anak
kecil yang sakit dan sedang diobati dua orang tabib, dibagian lainnya
ada seorang tabib sedang meracik obat.
Dalam tradisi Melayu, naskah-naskah yang menyajikan resep obat-obatan
semakin memperkuat pengolahan bahan alam sebagai obat sudah dilakukan
sejak lama. Naskah itu memuat pelbagai jamusawan, jamu sorong, jamu
untuk ibu hamil dan melahirkan, obat sakit mata,obat sakit pinggang,
hingga obat penambah nafsu makan.
Peralihan dari zaman Hindu-Budha ke zaman Islam, telah memperkaya khazanah tradisi pengobatan dalam masyarakat kita.
Berbagai buku kedokteran Islam yang ditulis dalam bahasa Arab dan
Persia, telah diterjemahkan baik ke dalam bahasa Jawa maupun bahasa
Melayu. Semua ini berlangsung tanpa terputus, sampai bangsa kita
mengenal ilmu kedokteran dari Eropa pada zaman penjajahan.
Di tengah-tengah serbuan obat-obatan modern, jamu dan ramuan
tradisional tetap menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat kita. Tidak
hanya masyarakat di pedesaan, masyarakat di perkotaan pun mulai
mengkonsumsi obat-obatan tradisional ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar